Bagaimana Sebenarnya Bentuk Cinta Pada Baginda Nabi?
"Habib Lutfi bin Yahya"
Ibarat Anda memiliki cinta pada kekasih, selalu melantunkan lagu untuknya, betapa bahagia hati ketika ia mendengarnya.
Sahabat Bilal adalah muadzin pada waktu itu. Selain bertugas pelantun adzan, ada rasa cinta & kepuasan ketika Baginda Nabi mendengarnya. Sama persis seperti seorang dimabuk cinta, yang akan mencurahkan segalanya demi lagu yang menyentuh kalbu, Sahabat Bilal pun sama. Adzan yang dilantunkan Bilal pun menjadi pertanda bagi sahabat lain, bahwa Baginda Nabi setelahnya akan mendatangi mereka untuk berjamaah. Begitu bahagia tak terkira saat lagu untuk kekasih Anda dipuji, begitu pun Bilal yang dipuji kekasihnya, Baginda Nabi, karena suara adzannya.
Begitupun hati akan kelu tak terperi, saat kekasih telah tiada, untuk siapa lagi Anda akan mengarang lagu? Hati Bilal pun pecah, perih tak terperi, saat mendengar kekasihnya, Baginda Nabi, telah tiada. Untuk siapa lagi adzan ini dilantunkan? Seketika mendengar Baginda Nabi tiada, Bilal mengundurkan diri sebagai muadzin. Tak sampai hati melantunkan kalimat: Allahu Akbar!!!
Bagaimana mungkin Bilal akan adzan, sementara Baginda Nabi yang selalu mendengar suaranya telah pergi? Lidahnya kelu setiap kali mencoba untuk melantunkan adzan. Mulutnya tak mau terbuka. Lidahnya tak mau bergerak, sehingga ia menetap di Madinah, dan setelah Baginda Nabi dimakamkan ia tak betah. Bilal lantas hijrah ke Syam, mengharapkan sedikit ketenangan di sana. Tapi bukan itu yang didapatnya, malah justru sebaliknya. Semakin ia jauh dari Madinah, semakin kuat bayangan Baginda Nabi di kepalanya. Kian jauh, kiat kuat dan lebih kuat lagi. Hingga Baginda Nabi mendatanginya di dalam mimpi: "Bilal, kenapa engkau malah tinggal di tempat yang jauh dari aku?" "Bukankah kau selalu ingin di dekatku? Kenapa malah tinggal di tempat sejauh ini?" kata Baginda Nabi.
Seketika Bilal bergegas kembali ke Madinah, berziarah di pusara kekasihnya disemayamkan. Datang kepadanya Khalifah Abu Bakr & Sahabat Umar. "Bilal, kapan datang?" tanya Khalifah Abu Bakar. Mereka pun saling menangis, memeluk sahabat yang pergi semenjak wafatnya Sang Nabi. "Bilal, lantunkanlah adzan sekali lagi, seperti engkau melantunkannya semasa dulu bersama Baginda Nabi." lanjut Khalifah Abu Bakar. "Maaf. Mulutku masih tak mau terbuka (untuk adzan)." jawab Bilal.
Umar pun meminta hal yang sama, dan Bilal kembali menolaknya. Akhirnya datang dua orang anak. Paling besar berumur 9 tahun, satunya lagi berusia 8 tahun. Kedua anak itu adalah Cucu Baginda Nabi: Sayyidina Hasan dan Imam Husein. Begitu tahu mereka berdua adalah cucuk kekasihnya, Bilal menghambur dan memeluk keduanya, dan menciumi keduanya. Sahabat Bilal pun kembali menangis. Kenapa? Setelah sedekat ini dengan kedua anak itu, ternyata memiliki bau keringat seperti Baginda Nabi. "Ya, Bilal," kata Sayidina Hasan, yang ditemani Imam Husein, "Kumandangkanlah adzan, seperti kau melantunkannya di masa datukku." Seketika hati Bilal luluh. "Jika yang meminta adalah dua anak ini, bagaimana mungkin aku mampu untuk menolak?" "Mereka berdua adalah sempalan daging dari Rasulullah. Jika berani aku tolak, bagaimana nanti jika bertemu beliau di akhirat kelak?"
Kemudian Bilal beranjak ke menara, melantunkan adzan. Seluruh penghuni Madinah keluar; anak kecil, tua-muda, muncul dari rumah masing-masing. Sembari mereka terheran-heran dan bersorak "Baginda Nabi hidup lagi", karena suara adzan ini selalu diikuti kehadiran Rasulullah. Mereka semua berduyun-duyun mendengarkan suara Bilal.
Wallahu A’lam. Semoga kita diakui umat Baginda Nabi. Amin...
@HabibluthfiYahy 11h
